Bagaikan deru debu di jalanan kota,
tak terhingga tiada bertepi,
tajam, pekak, panik, kotor,
berisik ...
Orang-orang merasa dirinya kuat,
dengan lantangnya berteriak,
dengan kepalannya teracung,
dengan raut muka seramnya,
Dimana lagi adat tertanam,
sopan dan santun ibu pertiwi,
apakah telah melupakan leluhur,
budaya nan luhur seorang pribumi,
Tiada salah negeri ini penuh dengan emosi,
membakar dan menghanguskan anak bangsa,
saling tikam, injak, sikut, telan,
karena ia merasa dijunjung,
Tiadakah sentuhan Penguasa Alam,
terbesit nurani yang membeku,
hingga aliran darahpun tak dianggap,
kaum jelata yang tidak mengerti apa-apa,
Teguran alam silih berganti,
bukankah itu sebuah sambitan,
untuk orang-orang yang lagi dipercaya,
sebuah amanat untuk menjadi sang daulat,
Dikemanakan republik ini,
oleh orang-orang yang menjadi raja,
dengan segala upaya untuk singgasana,
tiada terbesit sebuah adat dari alam,
Sekarang ia boleh menjadi raja,
dengan teriakannya yang tanpa adat,
dengan muka seramnya meninggalkan leluhur,
tapi ia akan mati untuk tidak dikenang,
Republik sok kuasa pun akan tergusur ...
(Serang, 14 Januari 2009, 11.36 WIB)
0 Komentar