Terduduk terdiam menatap dirimu,
penuh dengan garis-garis luka kehidupan,
tergores membekas dengan jelasnya,
sebuah tanda yang sangat memberikan arti,
Tiada terasa hati ini bergetar,
oleh alunan tembang kesenduan,
dan kesendirian hati yang terluka,
terbawa hingga tetesan air matamu,
Dedauan yang melayang berguguran,
mengikuti aliran air mata itu,
seperti turut larut dalam kesenyapan,
dan merasakan keheningan hati,
Tetapi aku tidak berani beranjak,
dari duduk diamku bagaikan terpaku,
hanya bisa menatap dan turut larut,
karena dirimu ingin dengan kesendirian,
Hanya bisa ikut merasakan kesendirian,
hanya bisa ikut merasakan kesunyian,
dalam dawai-dawai semilir angin senja,
bersama menemani hati yang sedang terpaku,
Memang hari sudah senja,
sepertinya mentari pun ingin ikut merasakan,
dan ingin menghangatkan seperti diriku,
tetapi apa daya mentari pun ingin berpulang,
Tetapi yakinlah aku tetap duduk disini,
untuk tetap menunggu keringnya air mata itu,
untuk memberi sekerlip cahaya dalam hatimu,
untuk memcerahkan mata indah itu ...
Saturday, July 2, 2011 at 9:05am
0 Komentar